Kopi Papua hasilkan laba ratusan juta | SINDOnews

Kopi Papua hasilkan laba ratusan juta | SINDOnews.

Sindonews.com – Bisnis kopi Papua yang dimulai Prawito Adi Nugroho empat tahun silam ini perlahan menuai hasil manis. Tidak hanya menguntungkan, namun juga membuka lapangan kerja.

Prawito tadinya tidak menyangka komoditas kopi asal Pegunungan Bintang, Papua ini dapat memberi keuntungan menarik. Peluang usaha ini berawal ketika sepupu Prawito yang berada di Papua, bernama Winardi, kedatangan suku asli di sebuah gudang di distrik Wamena dan menawarkan kopi hasil panennya. Meski sempat ragu dan bingung memanfaatkan komoditas ini, 20 kg kopi mentah pun dikirimkan ke Jakarta.

Bermodalkan koneksi di salah satu coffee shop ternama di daerah Senopati, Prawito pun berniat menjual kopi mentah tersebut. Dari tempat inilah semua bermula. “Dia tanya jenis kopinya, tapi saya buta sama sekali tentang kopi. Bentuknya juga berantakan, tapi setelah digoreng (sangrai/roasted) 1 kg, dia bilang ini bisa jadi kopi bagus,” kenang lulusan Sastra Jepang Universitas Bina Nusantara ini.

Setahun lamanya Prawito mempelajari seluk beluk kopi dan pengolahannya. Setelah mendapatkan masukan dan tambahan pengetahuan baik dari teman, buku, maupun informasi lainnya secara perlahan Prawito menerapkan cara mengolah kopi yang baik sehingga menghasilkan produk yang disebut Arabica Specialty Coffee.

Pekerjaan di sebuah event organizeryang telah empat tahun dilakoninya pun mulai ditinggalkan dan fokus di usaha ini. “Akhirnya saya aplikasikan ilmunya ke sana (Papua) ngajarinnya lumayan juga, satu tahunan,”ujar penggila fotografi ini. Dari segi rasa, Prawito mengatakan, ahli yang mencicipi kopi Papua mengatakan, kopi ini memiliki cita rasa campuran cokelat, buah-buahan, dan sedikit rasa tanah.

Biji kopi dapat disebut sebagai biji kopi spesial bila memenuhi beberapa syarat utama di antaranya tanaman kopi harus tumbuh minimal di ketinggian 1.200–2.200 di atas permukaan laut. Papous Coffee merupakan kopi yang berasal dari Papua tepatnya di pegunungan Lembah Baliem Wamena, lembah di pegunungan Jayawijaya dengan ketinggian di atas 1.600 meter atau puncak lembah dengan ketinggian tertinggi di Indonesia.

Biji kopi mentah (Green Bean) menjadi awal usaha Papous Coffee. Nama Papous diambil dari sebutan Belanda untuk Papua pada zaman penjajahan dahulu, Papoos. Perkebunan ini memang tadinya perkebunan milik Belanda pada zaman penjajahan. “Saya baca-baca zaman dulu Pulau Papua itu di peta kuno namanya Papoos/Papous,”ujarnya.

Dengan modal Rp30 juta dari tabungan pribadinya, Prawito mulai membeli kopi dalam jumlah besar.Sebanyak 500 kg kopi langsung diboyong ke Jakarta dengan perantara saudara sepupunya, membeli hasil kopi dari petani skala kecil yang tinggal di lembah Baliem, dekat Kota Wamena dan di lembah Kamu, dekat Kota Moanemani.

Kedua wilayah ini terletak di ketinggian antara 1.400 dan 2.200 meter di atas permukaan laut. Selain untuk membeli kopi, uang tersebut juga dipakai untuk membeli alat sortir,membayar tenaga orang, serta ekspedisi barang. “Itu pas tahun kedua, setelah belajar kopi, pakai uang tabungan,” ungkap anak pertama dari tiga bersaudara ini.

Awalnya Prawito mulai menjadi penyuplai biji kopi mentah untuk satu kopi di daerah Senopati. Tak lama permintaan kopi khas Papua berkembang dan menjadikan dirinya sebagai penyuplai untuk beberapa produsen kafe seperti Anomali, JJ Royal Coffe, Maharaja Coffe, Santino Coffee, Roswell Coffee, dan sejumlah kafe atau coffee house lainnya. Selain itu, produk kopi ini juga sudah masuk di Grand Lucky SCBD, KemChick Kemang, dan beberapa pasar swalayan.

“ Untuk sementara promosi kita lebih banyak online. Facebook, Twitter, dan dari teman-teman yang terdekat dulu,”tuturnya. Selain Green Bean, pada 2010 Papous mulai mengembangkan produk biji kopi matang (Roasted Bean Coffee). Untuk produk ini Green Bean yang telah melalui proses sortir dipanggang menggunakan mesin ‘roaster’. Roasted Bean pun dikemas dalam beberapa macam ukuran yaitu 100 gr,200 gr, dan kemasan 1 kg.

Kemasan kopi ini pun dibuat secara khusus dengan menggunakan kemasan khu-sus kopi yang diimpor dari Taiwan. “Kalau ke distributor kita ada quantity minimumnya, di atas 5 kg,”ujar pria kelahiran 1980 ini. Produk terakhir, Coffee Bar, konsep mini kafe yang dirintis pada 2011 dengan menyajikan kopi siap minum dengan berbagai menu andalan Papous Coffee untuk berbagai acara.

Prawito pun telah mempekerjakan seorang pegawai gudang di daerah Bekasi dan dua orang pegawai Coffee Bar. Selain itu, Prawito juga memanfaatkan beberapa keluarga yaitu sekitar 15 keluarga di sekitar Bekasi yang bertugas untuk menyortir kopi. Hingga tahun keempat, Prawito sudah merasakan wanginya keuntungan kopi Papua ini.

Secara omzet,kata Prawito, tiap produk memberikan kontribusi yang berbeda. Green Bean masih menjadi kontributor terbesar, yang dalam setahunan menghasilkan omzet sekitar Rp200-300 juta.“Green Bean hitungannya satu tahun, kira-kira Rp200-300 juta, tapi itu masih kecil karena kita terbatas di dana. Kalau misalnya suatu saat kita kuat bisa lebih dari itu,”tuturnya.

Sementara produk Roasted Bean Coffee setiap bulan bisa menghasilkan omzet sekitar Rp10-15 juta, dan Coffee Bar menghasilkan omzet sekitar Rp15 juta per bulan. (mai)

Advertisements