Jenis-Jenis Kopi Seduh Perlu Anda Tahu (1)

Jenis-Jenis Kopi Seduh Perlu Anda Tahu (1).

JIKA Anda terbilang pemula dalam meminum kopi, pilihan jenis kopi terbaik yang bisa dicicipi adalah cappucino. Pasalnya, dari jenis minuman ini Anda bisa memahami espresso yang tidak begitu kuat dengan susu sebagai penyeimbang rasa pahit. Tampilannya juga menarik.

Berikut jenis-jenis kopi yang perlu Anda pahami untuk mengetahui perbedaan karakteristiknya, seperti diulas Kitchendaily:

Latte
Jenis latte terpopuler adalah espresso Italia dengan campuran dua bagian susu rebus dan satu bagian kopi. Berbeda dengan cappuccino, latte mengandung lebih banyak susu dan biasanya disajikan dalam secangkir gelas berukuran 7 ons. Latte hanya terbuat dari susu yang direbus sehingga tidak memiliki tekstur ekstra berbusa.

Espreso
Banyak yang menganggap espresso adalah biji kopi yang belum atau sudah dipanggang. Pernyataan tersebut salah, yang benar adalah espresso mengacu pada metode pembuatan minuman. Espresso menggambarkan kopi yang dibuat menggunakan mesin espresso.

Cappucino
Cappucino adalah minuman kopi berbasis espresso Italia yang berisi satu bagian espresso, satu bagian susu rebus, dan satu bagian susu berbusa. Jika pembuatannya benar, setiap cangkir cappuccino harus mengandung kopi, susu, dan susu berbusa dengan proporsi yang sama.

Americano
Americano adalah suntikan espresso dengan tambahan air agar rasa lebih encer. Keenceran ini menyebabkan rasa minuman mendekati kopi Amerika yang disaring lalu mendapat tambahan espresso. Biasanya, Americano menggunakan tambahan 6-8 ons air, jumlahnya dapat berubah sesuai selera masing-masing.

Cortado/Gibraltar
Meskipun nama Cortado dan Gibraltar berbeda, sebenarnya ini adalah jenis kopi yang sama. Yang membedakan hanyalah kedai kopi tempat Anda memesannya. Cortado merupakan “cut” espresso Spanyol dengan tambahan susu rebus. Cortado berasal dari bahasa Spanyol untuk “cut (memotong)”. (ftr)

Advertisements

Deretan Kopi Nusantara dengan Delapan Citarasa (II-Habis)

Deretan Kopi Nusantara dengan Delapan Citarasa (II-Habis).

BERUNTUNG bagi Indonesia karena menjadi negara penghasil kopi ketiga terbesar di dunia. Pencinta kopi dari penjuru dunia pun gemar berburu citarasa kopi khas Nusantara.

Simak ragam kopi Nusantara, seperti dilansir laman Bandarkopi:

Kopi Luwak
Kopi luwak dianggap sebagai satu dari kopi terbaik yang pernah ada. Pusat perkebunan kopi luwak ada di Jawa, Sumatera, dan Sulawesi, dan merupakan kopi jenis Robusta.

Luwak, Musang Asia, adalah penyebab keunikan kopi ini. Omnivora ini menaiki tanaman kopi di malam hari, mengambil, lalu mengonsumsi buah kopi terbaik. Biji dari buah yang telah dimakan tersebut kemudian keluar bersama kotoran luwak.

Dipercaya sebagai biji kopi terbaik karena luwak dianggap memilh buah yang matang terbaik dan biji tersebut telah melewati fermentasi alami dalam perut luwak. Rasa yang dihasilkan sangat unik, punya aroma panggang yang tidak seperti kopi biasanya.

Kopi Sulawesi
Area yang paling terkenal dengan produksi kopi di pulau ini adalah Tana Toraja di pusat dataran tinggi Sulawesi Selatan. Seperti kebanyakan pulau lainnya di Indonesia, Sulawesi mempunyai kondisi geologis kuno yang menyebabkan tanahnya mengandung besi tinggi yang dapat mempengaruhi rasa dari kopi tersebut.

Kopi Sulawesi punya rasa yang berbeda sehingga begitu dituangkan di cangkir kopi, kopi ini mempunyai citarasa kacang dan bahan rempah, di antaranya kayu manis atau kapulaga dan sedikit aroma lada hitam.

Kopi Flores
Flores terkenal dengan gunung berapi dan tanah vulkaniknya. Abu vulkanik tersebut membentuk andolsol yang subur, ideal untuk produksi kopi organik. Kopi Arabika ini tumbuh di ketinggian 1.200 hingga 180 meter di lereng bukit dan dataran tinggi.

Kebanyakan kopi ditanam di bawah pohon yang rindang dan menggunakan teknik giling basah. Kopi flores punya citarasa coklat, biji yang berisi, dan sedikit rasa tobacco.

Kopi Papua
Ada dua area utama penghasil kopi di Papua, yakni lembah Baliem dan Kamu. Kedua area tersebut ada di ketinggian 1.400 sampai 2.000 meter, sangat ideal untuk menanam kopi Arabika. Total kopi yang diproduksi kedua area ini adalah 230 ton per tahun.

Petani di sana menggunakan proses semibasah untuk memproduksi kopinya. Pestisida dan herbisida kimia tidak digunakan dalam produksinya sehingga kopi ini menjadi berharga dan langka. Kopi Papua punya biji yang berisi, sedikit rasa coklat dan tanah, serta rasa pedas di akhir. (ftr)

Kopi Papua hasilkan laba ratusan juta | SINDOnews

Kopi Papua hasilkan laba ratusan juta | SINDOnews.

Sindonews.com – Bisnis kopi Papua yang dimulai Prawito Adi Nugroho empat tahun silam ini perlahan menuai hasil manis. Tidak hanya menguntungkan, namun juga membuka lapangan kerja.

Prawito tadinya tidak menyangka komoditas kopi asal Pegunungan Bintang, Papua ini dapat memberi keuntungan menarik. Peluang usaha ini berawal ketika sepupu Prawito yang berada di Papua, bernama Winardi, kedatangan suku asli di sebuah gudang di distrik Wamena dan menawarkan kopi hasil panennya. Meski sempat ragu dan bingung memanfaatkan komoditas ini, 20 kg kopi mentah pun dikirimkan ke Jakarta.

Bermodalkan koneksi di salah satu coffee shop ternama di daerah Senopati, Prawito pun berniat menjual kopi mentah tersebut. Dari tempat inilah semua bermula. “Dia tanya jenis kopinya, tapi saya buta sama sekali tentang kopi. Bentuknya juga berantakan, tapi setelah digoreng (sangrai/roasted) 1 kg, dia bilang ini bisa jadi kopi bagus,” kenang lulusan Sastra Jepang Universitas Bina Nusantara ini.

Setahun lamanya Prawito mempelajari seluk beluk kopi dan pengolahannya. Setelah mendapatkan masukan dan tambahan pengetahuan baik dari teman, buku, maupun informasi lainnya secara perlahan Prawito menerapkan cara mengolah kopi yang baik sehingga menghasilkan produk yang disebut Arabica Specialty Coffee.

Pekerjaan di sebuah event organizeryang telah empat tahun dilakoninya pun mulai ditinggalkan dan fokus di usaha ini. “Akhirnya saya aplikasikan ilmunya ke sana (Papua) ngajarinnya lumayan juga, satu tahunan,”ujar penggila fotografi ini. Dari segi rasa, Prawito mengatakan, ahli yang mencicipi kopi Papua mengatakan, kopi ini memiliki cita rasa campuran cokelat, buah-buahan, dan sedikit rasa tanah.

Biji kopi dapat disebut sebagai biji kopi spesial bila memenuhi beberapa syarat utama di antaranya tanaman kopi harus tumbuh minimal di ketinggian 1.200–2.200 di atas permukaan laut. Papous Coffee merupakan kopi yang berasal dari Papua tepatnya di pegunungan Lembah Baliem Wamena, lembah di pegunungan Jayawijaya dengan ketinggian di atas 1.600 meter atau puncak lembah dengan ketinggian tertinggi di Indonesia.

Biji kopi mentah (Green Bean) menjadi awal usaha Papous Coffee. Nama Papous diambil dari sebutan Belanda untuk Papua pada zaman penjajahan dahulu, Papoos. Perkebunan ini memang tadinya perkebunan milik Belanda pada zaman penjajahan. “Saya baca-baca zaman dulu Pulau Papua itu di peta kuno namanya Papoos/Papous,”ujarnya.

Dengan modal Rp30 juta dari tabungan pribadinya, Prawito mulai membeli kopi dalam jumlah besar.Sebanyak 500 kg kopi langsung diboyong ke Jakarta dengan perantara saudara sepupunya, membeli hasil kopi dari petani skala kecil yang tinggal di lembah Baliem, dekat Kota Wamena dan di lembah Kamu, dekat Kota Moanemani.

Kedua wilayah ini terletak di ketinggian antara 1.400 dan 2.200 meter di atas permukaan laut. Selain untuk membeli kopi, uang tersebut juga dipakai untuk membeli alat sortir,membayar tenaga orang, serta ekspedisi barang. “Itu pas tahun kedua, setelah belajar kopi, pakai uang tabungan,” ungkap anak pertama dari tiga bersaudara ini.

Awalnya Prawito mulai menjadi penyuplai biji kopi mentah untuk satu kopi di daerah Senopati. Tak lama permintaan kopi khas Papua berkembang dan menjadikan dirinya sebagai penyuplai untuk beberapa produsen kafe seperti Anomali, JJ Royal Coffe, Maharaja Coffe, Santino Coffee, Roswell Coffee, dan sejumlah kafe atau coffee house lainnya. Selain itu, produk kopi ini juga sudah masuk di Grand Lucky SCBD, KemChick Kemang, dan beberapa pasar swalayan.

“ Untuk sementara promosi kita lebih banyak online. Facebook, Twitter, dan dari teman-teman yang terdekat dulu,”tuturnya. Selain Green Bean, pada 2010 Papous mulai mengembangkan produk biji kopi matang (Roasted Bean Coffee). Untuk produk ini Green Bean yang telah melalui proses sortir dipanggang menggunakan mesin ‘roaster’. Roasted Bean pun dikemas dalam beberapa macam ukuran yaitu 100 gr,200 gr, dan kemasan 1 kg.

Kemasan kopi ini pun dibuat secara khusus dengan menggunakan kemasan khu-sus kopi yang diimpor dari Taiwan. “Kalau ke distributor kita ada quantity minimumnya, di atas 5 kg,”ujar pria kelahiran 1980 ini. Produk terakhir, Coffee Bar, konsep mini kafe yang dirintis pada 2011 dengan menyajikan kopi siap minum dengan berbagai menu andalan Papous Coffee untuk berbagai acara.

Prawito pun telah mempekerjakan seorang pegawai gudang di daerah Bekasi dan dua orang pegawai Coffee Bar. Selain itu, Prawito juga memanfaatkan beberapa keluarga yaitu sekitar 15 keluarga di sekitar Bekasi yang bertugas untuk menyortir kopi. Hingga tahun keempat, Prawito sudah merasakan wanginya keuntungan kopi Papua ini.

Secara omzet,kata Prawito, tiap produk memberikan kontribusi yang berbeda. Green Bean masih menjadi kontributor terbesar, yang dalam setahunan menghasilkan omzet sekitar Rp200-300 juta.“Green Bean hitungannya satu tahun, kira-kira Rp200-300 juta, tapi itu masih kecil karena kita terbatas di dana. Kalau misalnya suatu saat kita kuat bisa lebih dari itu,”tuturnya.

Sementara produk Roasted Bean Coffee setiap bulan bisa menghasilkan omzet sekitar Rp10-15 juta, dan Coffee Bar menghasilkan omzet sekitar Rp15 juta per bulan. (mai)

Coffee grown in Australia – A history of coffee developed right here

Byron Beans

Coffee initially arises from the highlands throughout Ethiopia. Over fifteen hundred years back, it was delivered to Arabia, after that Europe and then to North and South America. It was simply within the late 19th century when Australia begun to grow coffee commercially. Within the 19th century, Australian coffee ended up being appreciated within Europe and even picked up a number of medals within London. It had been the substantial labor costs that lead to the decline within Australia’s coffee creation. They only couldn’t contend with locations just like Brazil, Indonesia, the Americas and Africa. Coffee manufacturing picked up again within the late 1980’s when machine harvesting ended up being introduced to the marketplace. This allowed the producers to reduce their harvesting costs plus they might once again contend with some other coffee suppliers.

Where is the coffee grown within Australia?

A couple of the major places that coffee is…

View original post 222 more words

A Short History about Coffee

Yes, I know that you love to love your dark and rich Java every single day, but do you have any idea how it came to be in your cup?

The country of origin where coffee was supposed to have been birthed is Ethiopia, and the story behind it is that there was a goat herder who noticed that his goats were pretty hyper after eating wild Ethiopian berries. What’s that about? He then decided to brew those berries into a drink, and coffee was born! It is a lot more complex than that though, because it took until the 1600s for coffee to be imported into Venice and affect all of Europe, and we in the US didn’t see the delicious bean until 1607 when John Smith brought it over into Jamestown.

There is much more to learn about the decadent history of coffee, but that is a little bit of fun history for you to use as anecdotes to impress your friends.